ALQURAN MEMBAWA KEBERKAHAN

Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberikan peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara shalatnya. (Surat Al An'aam: ayat 9)

Mukhjizat AlQuran

"Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja sama" (QS Al-Isra,[17]: 88).

IQRA'

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).

ALQURAN TERPELIHARA

"Sesungguhnya Kami (Allah bersama Jibril yang diperintahNya) menurunkan Al-Quran, dan Kami(yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya" (QS Al-Hijr [15]: 9).

DI BAWAH NAUNGAN ALQURAN

Ya Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran...

Photobucket

Jumat, 07 Agustus 2009

10 variasi adzan

Qari'ah Maria Ulfa - Surat Yasin

ustadz muammar - ya sayyidi

Kamis, 06 Agustus 2009

SEPUTAR BULAN SA'BAN

Dinamakan bulan sya'ban karena bangsa arab pada bulan tersebut berpencar untuk mencari air, atau karena ia muncul diantara bulan rajab dan ramadhan.
Diriwayatkan dari 'Aisyah radhiallahu'anha bahwa: Rasulullah SAW banyak berpuasa (pada bulan sya'ban) sehingga kita mengatakan; beliau tidak pernah berbuka, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali puasa di bulan ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW banyak berpuasa melebihi puasa di bulan sya'ban (muttafaq 'alaih).

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh Usamah bin Zaid kenapa beliau banyak berpuasa di bulan sa'ban beliau menjawab: "Karena bulan ini banyak dilalaikan oleh manusia padahal pada bulan tersebut akan diangkat amalan-amalan seorang hamba kepada Allah, dan saya ingin amalanku diangkat dan saya sedang berbuasa" (HR. Abu Dawud dan An Nasai - lihat shahih targhib wat tarhib 425 dan shahih abu Dawud 2/461)

Ibnu Rajab berkata: "Puasa dibulan sya'ban lebih utama daripada puasa di bulan-bulan haram, dan sebaik-baik amalan sunnah adalah yang dilakukan ketika dekat dengan bulan suci ramadhan baik sebelum maupun sesudahnya, maka puasa pada bulan ini kedudukannya seperti sunnah-sunnah rawatib sebelum atau sesudah fardhu dan berfungsi untuk melengkapi jika ada kekukarang pada amalan fardhu tersebut. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah ramadhan memiliki keutamaan lebih dibanding puasa-puasa lain yang bersifat mutlak atau umum. Oleh karena itu puasa yang dilakukan ketika sudah mendekati ramdhan lebih utama disbanding puasa-puasa yang dilakukan jauh dari bulan suci ini".

Sabda rasulullah yang menyebutkan bahwa bulan sya'ban ini banyak dilalaikan oleh manusia menunjukan akan dianjurkannya kita untuk menggunakan waktu untuk ketaatan disaat manusia banyak melalaikannya, sebagaimana kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dipasar diamana kebanyakan orang ditempat tesebut lalai akan akhirat dan disibukkan dengan urusan duniawi, diantara faidah yang bisa kita petik dari hal ini, diantaranya:
  • Ibadah pada waktu orang sedang lalai lebih membantu kita untuk berbuat ikhlas karena kita mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui oleh banyak orang, apalagi puasa yang merupakan rahasia antara Allah dan hamba-Nya.
  • Demikian juga beramal pada saat manusia lalai terasa lebih berat disbanding jikakita melakukan amalan secara beramai-ramai.
Para ulama berbeda pendapat tentang sebab kenapa Rasulullah r banyak berpuasa di bulan sya'ban, diantara pendapat mereka antara lain:
  • Beliau terkadang meninggalkan puasa tiga hari disetiap bulannya karena safar atau karena hal lain, oleh karena itu beliau menggumpulkannya dan menggantinya dibulan sya'ban, sebab apabila beliau melakukan suatu amalan beliau akan selalu melakukannya dan jika ada yang tertinggal maka beliau mengqadhanya.
  • Disebutkan bahwa beliau banyak puasa pada bulan sya'ban karena manusia banyak melalaikannya, dan barangkali ini adalah yang paling tepat sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Usamah bin Zaid diatas.
Rasulullah terbiasa jika beliau belum sempat mengqadha puasa-puasa sunnah maka meliau menggantinya dibulan sya'ban sebelum datangnya bulan ramadhan, demikian pula jika ada shalat-shalat sunnah yang pernah terlewatkan maka beliau mengqadhanya pada waktu yang lain. Disamping itu puasa sunnah dibulan sya'ban juga merupaka latihan agar terbiasa melakukan puasa sehingga puasa ramadhan akan terasa ringan karena ia sudah terbiasa berpuasa sebelumnya.

Dikarenakan puasa sya'ban merupaka mukaddimah untuk memasuki puasa ramadhan, maka dianjurkan pula untuk banyak membaca al quran dan bersedekah serta memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya. Hanya saja kita dilarang untuk melakukan puasa ketika sudah mendekati akhir sya'ban kecuali jika kita sudah terbiasa berpuasa sebelumnya, karena Rasulullah r melarang kita untuk mendahului bulan ramadhan dengan puasa sunnah satu atau dua hari sebelumnya hal ini supaya kita tidak menambah ramadhan dengan puasa lain yang bukan termasuk darinya, kita juga dilarang berpuasa pada hari syak (ragu-ragu antara akhir sya'ban atau awal ramadhan), beliau bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka ia telah berbuat maksiat terhadap Abu Qashim (Rasulullah)". Itu semua dimaksudkan supaya ada pembatas antara puasa sunnah dan puasa wajib karena kita diperintahkan untuk membedakan antara keduanya, sebagaimana kita juga dilarang untuk berpuasa pada hari raya.

Suatu hari Rasulullah SAW melihat sesorang yang melakukan shalat sunnah fajar setelah iqamat dikumandangkan lalu beliau menegur: "Apakah shalat subuh empat rakaat?" (HR. Bukhari). Hadits ini juga dijadikan dalil sebagai larangan untuk melakukan shalat sunnah setelah iqamat dikumandangkan kecuali jika ia sudah terlanjur melakukannya maka ia boleh memilih antara meneruskan atau membatalkannya.

BEBERAPA BID'AH DI BULAN SYA'BAN

Allah SWT berfirman: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3)

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah" (QS. 42:21)

Dari 'Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam perkara kami (agama islam) yang tidak termasuk darinya maka hal itu pasti tertolak"
(HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadits diatas menunjukan bahwa syariat islam sudah sempurna dan tidaklah Allah mewafatkan nabi-Nya kecuali setelah ia menyampaikan semua syariat agama dengan jelas dan sempurna, maka siapa saja yang menambah sesuatu dalam syari'at islam pasti tertolak dan tidak akan diterima.

Ada beberapa amalan yang sering dilakukan dibulan sya'ban akan tetapi hal itu tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah r dan juga para shahabatnya serta para ulama yang mu'tabar, diantara amal-amalan tersebut diantaranya:
  • Shalat alfiyah yaitu shalat yang terdiri dari 100 rakaat yang dilakukan pada pertengahan sya'ban dengan berjamaah, pada setiap rakaatnya imam membaca surat al ikhlas 10 kali, shalat ini didasarkan pada sebuah hadits palsu yang tidak ada asalnya dari Rasulullah SAW.
  • Mengkhususkan malam nisfu sa'ban (pertengahan sya'ban) untuk melakukan shalat dan siangnya untuk berpuasa berdasarkan hadits palsu yang berbunyi: "Shalatlah kalian dimalam harinya dan berpuasalah pada siang harinya"
  • Shalat tolak bala dan supaya panjang umur, yaitu shalat 6 rakaat yang dilakukan pada malam nisfu sya'ban, demikian pula membaca surat yasin pada malam tersebut.
Imam Al Ghazali rahimahullah mengatakan: "shalat-shalat ini sangat masyhur di kalangan mutaakhirin penganut aliran sufi yang saya tidak tahu bahwa shalat maupun doa-doanya berdasarkan dalil yang shahih, akan tetapi itu semua tidak lain adalah bid'ah. Sahabatsahabat
kami telah membenci untuk berkumpul-kumpul pada malam nisfu sya'ban baik di masjid maupun ditempat lainnya".

Imam Nawawi rahimahullah berkata: "shalat rajab (raghaib) dan shalat nisfu sya'ban adalah merupakan dua bid'ah yang mungkar serta sangat buruk".

Alangkah indahnya ungkapan yang berbunyi:
"Sebaik-baik perkara adalah yang berdasarkan petunjuk - dan yang paling nuruk adalah bid'ah yang diada-adakan

Wajib bagi kita semua supaya beribadah sesuai dengan dalil dan contoh dari Rasululllah SAW dan para sahabatnya yang mulia serta menjauhi segala bentuk ibadah yang diada-adakan dalam agama, karena semua hal baru dalam agama ini adalah bid'ah dan semua kebid'ahan adalah tempatnya di neraka wal'iyadzu billah.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua ke jalan-Nya yang lurus dan dijauhkan dari semua bentuk kesesatan dan dosa, amin ya rabbbal 'alamin.


Oleh Abu Ziyad, website islam soal jawab.
Majmu' fatawa Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (2/882)

Senin, 13 Juli 2009

KETIKA RUH MENINGGALKAN JASAD

Sejak semalam sampai siang ini saya masih merasakan belasungkawa atas berpulangnya ibunda dan mertua tercinta dari dua adik saya ke Rakhmatullah. Sesuatu yang pasti, apalagi mengingat usia beliau yang telah mencapai 86 tahun. Kepulangan yang disaksikan oleh putra-putrinya sebagai sebuah peristiwa yang tenang dan damai.
Innalilahi wa innailaihi rojiun.

Semalam, dalam keheningan di rumah duka saya sempat berbisik-bisik dengan salah seorang abang saya (sekali lagi) perihal kematian. Sesuatu yang oleh kebanyakan orang (mungkin) masih dianggap sebagai sesuatu yang penuh rahasia, padahal sesungguhnya tidak.

Dari pembicaraan ini saya teringat pada kiriman tulisan dari seorang sahabat yang masih saya simpan baik-baik sejak lebih dari 7 tahun lalu. Dan tanpa bermaksud untuk menggurui siapapun - kecuali sekedar berbagi - berikut ini adalah tulisan dimaksud.

Semoga bermanfaat!

Dalam sebuah hadis dari Aisyah r.a, "Aku sedang duduk bersila di dalam rumah saat Rasulullah S.A.W pulang dan masuk ke dalam rumah sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangkit demi menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku setiap kali baginda masuk ke dalam rumah.

Rasulullah S.A.W berkata, "Tetaplah duduk di sana, tidak usah berdiri, wahai Ummul Mukminin." Lalu baginda menghampiriku sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, kemudian berbaring dan tak lama kemudian tertidur.

Saat baginda tidur, perlahan aku mencabuti uban janggutnya dan berhasil mendapatkan 19 helai rambut yang sudah memutih. Maka terfikir olehku, "Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku dan ada satu kelompok umat yang akan ditinggalkan oleh Nabinya." Maka aku pun menangis sehingga air mataku jatuh menetes di wajah baginda.

Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, "Mengapa engkau menangis wahai Ummul Mukminin?" Maka kusampaikan padanya apa yang baru kupikirkan tadi. Mendengar itu Rasulullah S.A.W bertanya, "Tahukah engkau keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayit?" Aku menggeleng dan berkata, "Tunjukkan padaku, wahai Rasulullah!"

Rasulullah S.A.W berkata, "Coba engkau ceritakan." Aku menjawab, "Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayit ketika ia keluar dari rumahnya di mana semua anak-anaknya bersedih hati di belakangnya. Mereka berkata, "Aduhai ayah, aduhai ibu! Sementara mayit Ayah atau Ibunya pun berkata, "Duhai anak-anakku!"

Rasulullah S.A.W berkata lagi: "Itu juga termasuk hebat. Tapi, adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Aku menjawab, "Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayit ketika ia diletakkan ke dalam liang lahat kemudian di atasnya ditimbuni tanah. Semua kaum kerabat kembali ke kediamannya masing-masing. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya. Semuanya kembali. Mereka menyerahkannya kepada Allah berikut segala amal perbuatannya."

Rasulullah S.A.W bertanya lagi, "Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawabku, "Hanya Allah dan RasulNya saja yang lebih tahu."

Maka Rasulullah S.A.W, bersabda: "Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayit ialah ketika orang yang akan memandikan masuk ke rumah untuk memandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha juga sama, melepaskan sorban dari kepalanya. Kala itu ruhnya menyeru - ketika ia melihat mayit dalam keadaan telanjang - dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh makhluk hidup kecuali jin dan manusia. Berkatalah ruh itu, "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu demi Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku sedang berisitirahat dari dahsyatnya rasa sakit sakaratul maut." Dan apabila air disiramkan ke tubuhnya maka ia berkata, "Wahai orang yang memandikan ruh Allah, janganlah engkau menyiramkan air dalam keadaan panas dan jangan pula dalam keadaan dingin karena tubuhku baru terbakar oleh lepasnya ruh."

Dan saat mereka memandikan mayit, maka berkata pula ruh itu, "Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku kuat-kuat sebab sekujur tubuhku penuh luka dari keluarnya ruh."

Bila telah selesai dimandikan dan diletakkan di atas kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayit menyeru, "Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau tutupi wajahku saat mengafani kepalaku agar aku dapat melihat wajah anak-anakku, keluarga, dan semua kerabatku. Ini adalah kali terakhir aku melihat mereka. Pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidak akan pernah berjumpa lagi dengan mereka hingga hari kiamat."

Ketika mayit dikeluarkan dari rumah, maka ia berseru, "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda (atau sebaliknya), maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim (atau piatu), janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak akan kembali untuk selama-lamanya."

Saat mayit diletakkan di dalam keranda, maka ia berkata lagi, "Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kalian bergegas membawaku sehingga aku masih dapat mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga tiba hari kiamat nanti ...."


* Disadur dari tulisan seorang sahabat di tanah rantau, Fajar Ibrahim.


Jumat, 22 Mei 2009

Kamis, 14 Mei 2009

Sabtu, 09 Mei 2009

Jumat, 08 Mei 2009

qiraat audio files(1)

Photobucket