ALQURAN MEMBAWA KEBERKAHAN

Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberikan peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara shalatnya. (Surat Al An'aam: ayat 9)

Mukhjizat AlQuran

"Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja sama" (QS Al-Isra,[17]: 88).

IQRA'

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).

ALQURAN TERPELIHARA

"Sesungguhnya Kami (Allah bersama Jibril yang diperintahNya) menurunkan Al-Quran, dan Kami(yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya" (QS Al-Hijr [15]: 9).

DI BAWAH NAUNGAN ALQURAN

Ya Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran...

Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Makrifat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makrifat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

LANGKAH MENUJU MA'RIFAT

Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.
Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya dari manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia.
Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.
Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.
Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.
Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir.
Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.
Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.
Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.
Wallahu a’lam.

Kamis, 15 Januari 2009

UZLAH DALAM KEHIDUPAN MODERN

Dalam khazanah kehidupan kaum sufi dikenal ada istilah Uzlah, yang artinya memisahkan diri dari keramaian masyarakat. Uzlah yang dimaksud dalam kehidupan kaum sufi adalah meninggalkan kehidupan bermasyarakat, mencari tempat yang terpisah jauh dan terpencil dari kehidupan manusia secara umum. Tujuan dari pemisahan diri tersebut, tidak lain untuk menyelamatkan aqidah dan keyakinan serta menyelamatkan kegiatan ibadah dan muamalah yang terpuji.

Dilakukannya uzlah, disebabkan seorang sufi tidak bisa lagi melaksanakan kegiatan-kegiatan agama di tengah-tengah masyarakat. Manusia secara umum telah terjelembab dalam pola kehidupan jahiliyah, kedzaliman dan kekacauan merajalela, nilai-nilai kebenaran dan keadilan tidak mungkin lagi dapat ditegakkan. Daripada ikut terjerumus dalam pada kehidupan seperti itu, seorang sufi melakukan uzlah dalam rangka menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa dan kedzaliman. Dengan memisahkan diri dari masyarakat yang telah rusak dan dipenuhi penganiayaan, ia dapat melaksanakan ibadah, bertaqarrub kepada Allah SWT dengan tenang dan terhindar dari berbagai gangguan yang mengusiknya.

Kajian ilmu-ilmu Islam secara umum sering membahas kegiatan uzlah seperti yang disebutkan di atas dan pada dasarnya terdapat dua pandangan yang berbeda. Kelompok pertama menyetujui cara itu, karena dapat menyelamatkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Pendapat kedua menyatakan tidak bisa diterima, karena terkesan bahwa pelaku uzlah enggan berjuang. Ia digambarkan bagaikan seorang pengecut yang lari dari tantangan-tantangan yang dijumpai di tengah masyarakat. Padahal, setiap orang muslim harus terus berjuang sampai dapat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Setiap orang muslim tidak boleh lari dari kenyataan yang dijumpai ditengah-tengah lingkungannya. Bila situasi membahayakan dirinya ia boleh bersikap taqiyah agar bisa selamat dari kejahatan lingkungannya. Taqiyah adalah sikap menyetujui sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran dan bertentangan dengan hati sanubarinya. Sikap itu dilakukan bersifat sementara, sebelum ada kesempatan untuk memperbaiki masyarakat. Bila situasi memungkinkan dan tidak membahayakan dirinya ia segera menolak keburukan itu dan kembali menegakkan kebenaran.

Dua pandangan di atas, masing-masing memiliki argumen yang dianggap kuat. Keduanya terdapat kebaikan yang tidak bisa ditutup-tutupi dan kelemahan yang tidak bisa dihindari. Kebaikan kelompok pertama, bahwa pada saat itu juga ia bisa menyelamatkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Kebaikan pendapat kedua, memberikan kesempatan pada orang tersebut untuk terus berjuang ditengah-tengah masyarakat, ia berusaha keras untuk menyelamatkan sesama umat manusia.

Kelemahan dari kelompok pertama, terkesan tidak memiliki keuletan dan kesungguhan dalam berjuang menegakkan kebenaran ditengah-tengah masyarakat. Ia hanya menyelamatkan diri sendiri saja, sedang masyarakatnya dibiarkan terjelembab dalam kehinaan dan kenistaan. Kelemahan dari pendapat kedua, ia menanggung resiko yang berat dengan sikap taqiyahnya, mendingan jika ia bisa berhasil berjuang dikalangan masyarakat, bila tidak, maka selamanya orang tersebut akan menyembunyikan kebenaran. Hal ini sangat berbahaya dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Sebenarnya, setiap insan muslim harus melakukan perjuangan yang maksimal dengan tidak mengenal putus asa untuk membimbing masyarakat pada kebenaran dan kebaikan. Namun bila tidak mampu, sehingga akan menenggelamkan dirinya dalam dosa dan kesalahan, maka lebih baik meninggalkan masyarakat itu. Pada dasarnya bisa tidak mampu lagi melaksanakan ajaran agama secara baik dan benar sebagaimana diajarkan al-Qur’an dan al-Sunnah lebih baik menghindari lingkungan seperti itu, bukankah bumi Allah amat luas dan lapang?. Di tempat yang baru masih menyimpan harapan yang menyenangkan bagi perkembangan da’wah Islamiyah.Pada masyarakat modern, Uzlah masih memiliki relevansi yang kuat, mengingat pengaruh globalisasi yang sangat keras, baik pengaruhnya yang konstruktif maupun pengaruh yang desktruktif. Uzlah pada abad modern tidak meninggalkan kehidupan masyarakat, kemudian memisahkan diri di gunung atau hutan, tetapi dengan menghindari budaya dan pengaruh yang merusak, baik yang datangnya dari lingkungan kita sendiri maupun budaya yang datangnya dari luar. Sebagai manusia yang memiliki kepribadian dan jatidiri yang kuat, manusia muslim harus mampu memilah dan memilih, mana yang baik atau buruk, dan mana yang terpuji atau tercela. Lindungi diri kita agar tidak menjadi budak dari kehidupan dunia modern yang mengarah pada perbuatan dosa dan maksiat. Arahkan kehidupan modern yang kita miliki menuju peradaban yang tinggi dan kehidupan masyarakat yang sejahtera, sesuai dengan tuntunan-Nya.

Senin, 11 Agustus 2008

TAKABBUR

PENGERTIAN TAKABBUR
Rasulullah SAW mendefinisikan “takabbur” sebagai sikap “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.
Pengertian itu Nabi sampaikan kepada orang yang mempertanyakan sikap seorang sahabat yang suka memakai baju dan sendal bagus.
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim)

BAHAYA TAKABBUR
Takabbur sangat berbahaya bagi manusia. Ia merupakan kesalahan pertama yang dilakukan makhluk Allah (iblis) di dunia ini, yang menyebabkannya diusir dari surga. Pada kenyataannya takabbur itu menyebabkan hal-hal berikut ini :
a) Jauh dari kebenaran
“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku[QS. Al A’raaf (7):146]
b) Terkunci mati hatinya
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” [QS. Al Mu’min (40):35]
c) Mengalami kegagalan dan kebinasaan
“..dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala[QS. Ibrahim (14):35]
d) Tidak disukai Allah.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong” [QS. An Nahl (16): 23]
e) Tidak akan masuk sorga
“Tidak akan masuk sorga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan” (HR. Muslim)
f) Akan menjadi penghuni neraka Jahannam
“ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” [QS. Al Mu’min (40): 60]

Ketika seseorang memiliki sifat sombong, maka ia akan tertutup dari akhlak mulia, antara lain :
1. Tidak mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai diri sendiri.
2. Tidak akan pernah tawadhu’(rendah hati), karena selalu merasa lebih baik.
3. Tidak dapat meninggalkan rasa dendam, karena merasa mampu membalas pihak yang merugikannya.
4. Tidak dapat jujur, karena untuk menutupi kekurangan tidak jarang ia harus berdusta.
5. Tidak akan dapat mengendalikan marah, karena merasa mampu melampiaskannya
6. Tidak bisa melepaskan diri dari sifat hasad (iri)
7. Tidak dapat menasehati atau menerima nasehat dengan lembut dan halus
8. Selalu memandang rendah orang lain.

MACAM-MACAM TAKABBUR
a. Takabbur kepada Allah
Inilah bentuk takabbur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir’aun dan sejenisnya.
Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab”.[QS. Al Mu’min (40):60]
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)”.[QS. Al Furqaan (25):60]
b. Takabbur kepada Rasul
Yaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, karena menganggapnya sebagai manusia biasa
“Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi”. [QS. Al Mu’minuun (23):34]
“Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka".[QS. Yaasiin (36):15].
Seperti yang dinyatakan kaum kafir Quraisy kepada Nabi : “Bagaimana kami bisa duduk di sisimu hai Muhammad, sementara yang ada di sekitarmu orang-orang faqir”.
c. Takabur atas sesama manusia
Yaitu membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Sifat ini meskipun tidak seberat pertama dan kedua, namun tetap berbahaya karena :
- Kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas.
- Ketika seseorang takabbur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

PENYEBAB TAKABBUR
Pada umumnya orang yang sombong adalah orang yang memiliki kebanggaan diri, karena memiliki sifat,kemampuan atau prestasi lebih dari yang lain.
1. Ilmu
Takabbur karena ilmu sangat mudah terjadi, yaitu dengan munculnya perasaan lebih mulia dari orang lain. Atau merasa telah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah dengan ilmunya
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [QS. Al Mujaadilah (58):11]
Kesombongan karena ilmu ini mudah terjadi karena dua hal :
  1. Ilmu yang dipelajari bukan ilmu hakiki. Karena hakekat ilmu adalah yang mampu memperkenalkan manusia akan Rabb-nya, keadaan ketika bertemu Allah dan hijab yang menghalanginya dari Allah. Ilmu yang demikian akan melahirkan sikap tawadhu’(rendah hati) bukan takabbur. QS 35:28
  2. Keadaan hati yang kotor saat menuntut ilmu, sehingga salah niatnya dan jadilah takabbur dengan ilmu yang didapatnya.
2. Amal Ibadah
Orang yang masuk dalam kehidupan zuhud (konsentrasi dalam ibadah) tidak otomatis terbebas dari takabbur. Misalnya dengan zuhudnya itu, merasa lebih layak dikunjungi daripada mengunjungi. Lebih layak dibantu daripada membantu, menganggap orang lain sengsara di neraka dan merasa hanya dirinya yang selamat.:
“Jika kamu mendengar ada orang yang berkata : “Binasa semua manusia” maka dialah yang paling dahulu binasa.” (HR Muslim).  

3. Hasab (kedudukan) dan Nasab (keturunan)  
Orang yang berasal dari keluarga terhormat mudah meremehkan orang lain yang datang dari  keluarga bukan terhormat, meskipun orang itu lebih baik ilmu dan amalnya, dan takabbur karena faktor ini sering kali menganggap orang lain sebagai budaknya, dan rasa keberatan untuk berbaur dengan mereka.
Dari Abu Dzarr ra berkata: Suatu hari pernah aku bersengketa dengan seseorang (Bilal) di hadapan Nabi. Lalu aku berkata kepada orang itu “Hai anak hitam”. Nabi segera memotong ucapanku: “Hai Abu Dzarr, tiada lebih baik orang putih dari yang hitam, kecuali dengan taqwa”. Mendengar itu saya berbaring dan mempersilahkan Bilal untuk menginjak-injak muka saya. (HR Ahmad).
4. Al Jamal (ketampanan/kecantikan)
Takabbur karena faktor ini lebih banyak terjadi di kalangan wanita, terwujud dalam celaan, atau gunjingan terhadap kekurangan pihak lain.
Aisyah ra berkata : Ada seorang wanita yang ingin bertemu Nabi, dan aku katakan kepada Nabi dengan isyarat tanganku yang menunjukkan bahwa wanita itu pendek. Sabda Nabi ketika itu :”Sesungguhnya kamu telah menggunjingnya”.
5. Al Maal (kekayaan)
Takabbur karena kekayaan ini banyak terjadi di kalangan pejabat, penguasa, pedagang, tuan tanah, dan mereka yang memilikinya. Orang yang merasa lebih kaya meremehkan orang yang dipandang kurang kaya dengan ucapan maupun sikap-sikap lainnya. Hal ini terjadi karena ketidak tahuannya akan fadhilah (keutamaan) orang miskin dan bahaya kekayaan. Seperti yang pernah terjadi pada pemilik dua kebun yang congkak dan akhirnya binasa [QS. Al Kahfi (18):34-42] atau Qarun yang akhirnya binasa bersama hartanya [QS. Al Qashash (28):79-81]
6. Al Quwwah (kekuatan)
Kekuatan dan kegagahan dapat memunculkan takabbur atas mereka yang lemah dan tidak berdaya.
7. Al Atba’ (pengikut/pendukung)
Banyaknya pengikut, pendukung, murid, keluarga, kerabat dan sebagainya sering memunculkan kesombongan pada orang yang memilikinya.
Secara umum, setiap nikmat yang bisa dianggap sebagai nilai lebih pada seseorang,berpotensi melahirkan benih takabbur pada seseorang.

TERAPI TAKABBUR
Takabbur adalah penyakit berbahaya yang bisa menyerang siapa saja. Pencegahan dan pemberantasan penyakit ini harus dilakukan dengan serius. Pengobatan intensif terhadap pengidap penyakit ini harus dilakukan dengan cermat dan seksama. Terdapat dua tahapan utama untuk melakukan terapi penyakit takabbur, yaitu :
1. Pencabutan akar dan pohonnya dari hati
Untuk mencabut pohon takabbur beserta akar-akarnya diperlukan dua kekuatan, yaitu ilmu dan amal.
· Ilmu yang dibutuhkan dalam hal ini adalah ma’rifatunnafsi (mengenal diri sendiri) dan ma’rifatullah (mengenal Allah). Dua hal ini sudah cukup untuk mencabut akar takabbur dari hati manusia. Sebab jika seseorang sudah mengenali dirinya sendiri dengan pengenalan yang benar, maka ia akan sadar bahwa ia adalah makhluk hina, lebih lemah dari lainnya, lebih miskin dari siapapun juga. Tidak ada yang pantas baginya kecuali tawadhu’ kepada sesama. Dan jika ia mengenali Allah dengan sebenarnya maka akan diketahuinya bahwa tidak ada yang layak untuk takabbur kecuali Allah.
· Amal yang dibutuhkan adalah sikap tawadhu’ kepada sesama manusia karena Allah, dengan senantiasa meneladani akhlak orang-orang shalih sebelumnya seperti akhlak Rasulullah SAW yang makan di atas tanah mengatakan, ”Sesungguhnya aku adalah hamba biasa yang makannya seperti hamba lainnya”.
Tawadhu’ tidak cukup dengan ilmu, ia harus berupa amal. Untuk itulah rukun Islam setelah syahadat adalah menegakkan shalat karena dalam shalat itu terdapat banyak rahasia hidup dan yang terpenting adalah pembiasaan agar seorang muslim yang shalat dengan ruku’ dan sujudnya terbiasa tawadhu’ serta tidak lagi sombong.
Ada banyak hal yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan takabbur pada diri seseorang, antara lain lima hal berikut :
a. Berdiskusi dengan sesama teman. Jika kebenaran muncul dari orang lain, bagaimanakah tanggapannya, keberatan atau menrima dengan senang.
b. Berkumpul dalam sebuah haflah (acara). Lalu ada orang lain yang lebih diprioritaskan, apakah sikapnya keberatan atau tidak.
c. Memenuhi undangan orang miskin. Pergi ke pasar membelikan sesuatu untuk orang lain atau tidak.
d. Membawa keperluan sendiri, keluarga, atau sahabat dari pasar atau tempat lainnya sampai rumah. Jika keberatan maka ada takabbur. Jika mau karena terpaksa maka itu kemalasan. Jika mau karena disaksikan banyak orang maka itu riya’.
e. Mengenakan pakaian yang sudah kusam.
Inilah beberapa kondisi berkumpulnya riya’ dan takabbur pada seseorang. Jika dalam keramaian maka riya’ ikut menjebak, jika dalam kesepian takabbur terus mengintai. Dengan mengenali keburukan kita kenali kebaikan. Dan dengan mengenali penyakit kita temukan obatnya.
2. Penghindaran dan pengendalian diri
Penyebab takabbur adalah prestasi yang pernah dicapai manusia. Ketidaksiapan dan ketidakmampuan menerima hasil dari penyebab tertentu berpotensi melahirkan sikap takabbur.

Photobucket