Bukan saja tauhid yang terdapat tingkatannya, kemusyrikan juga ada tingkatannya. Kalau kita membandingkan keduanya, kita dapat lebih mengetahui tauhid maupun kemusyrikan. Karena membandingkan dua hal yang berseberangan tersebut, maka kita dapat menjelaskannya. Sejarah memperlihatkan bahwa eksistensi beragam kemusyrikan selalu menandingi tauhid yang diajarkan oleh para nabi.Namun demikian, mempercayai beberapa sumber berarti mempercayai pluralitas Zat Tuhan, dan bertentangan sekali dengan mempercayai keesaan Zat Tuhan. Dalam kaitan ini Al-Qur'an mengemukakan argumen:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa." (QS. al-Anbiyâ': 22)
Pluralitas Sifat-sifat Allah
Pluralitas Ibadah (Penyembahan)
Namun demikian, kemusyrikan praktis juga begitu banyak tingkatannya. Tingkatannya yang paling tinggi adalah tingkatan yang membuat orang berada di luar batas Islam. Tingkatan ini disebut kemusyrikan yang terang-terangan. Namun ada banyak jenis kemusyrikan yang tersembunyi. Karena memiliki program tauhid praktis, maka Islam memerangi semua jenis kemusyrikan itu. Ada jenis-jenis kemusyrikan yang begitu tak kentara dan tersembunyi, sehingga nyaris tidak kelihatan. Nabi saw bersabda: "Kemusyrikan lebih tak terlihat ketimbang semut yang berjalan di batu yang licin di kegelapan malam. Kemusyrikan yang paling kecil kadarnya adalah lebih cenderung kepada tindak kezaliman ketimbang tindak keadilan." Orang baru dapat disebut religius kalau dia mencintai dan membenci karena Allah semata. Allah SWT berfirman:
"Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mmgasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Âli 'Imrân: 31)
Ayat yang menjanjikan bahwa kaum mukmin akan menjadi khalifah Allah, sangat jelas dalam kaitan ini. Ayat itu mengatakan: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutvkan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) Kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. an-Nûr: 55)
Sekali lagi pandangan ini salah. Karena mempercayai eksistensi sesuatu ciptaan tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas Zat Tuhan, tetapi justru melengkapi kepercayaan akan keesaan Allah, maka mempercayai sistem sebab-akibat tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas pencipta. Karena eksistensi segala ciptaan itu bukan dengan sendirinya, maka efektivitas mereka juga bergantung. Karena eksistensi dan efektivitas segala yang ada bergantung pada Allah, maka tak ada soal pluralitas pencipta. Mempercayai sistem sebab-akibat sesungguhnya melengkapi kepercayaan akan kepenciptaan Allah. Tentu saja sama dengan kemusyrikan kalau kita percaya bahwa segala ciptaan ada sendiri, atau percaya bahwa hubungan antara Allah dan alam semesta adalah hubungan pabrikan dan produk. Mobil pada mulanya membutuhkan pabrikan agar mobil itu ada, namun setelah ada mobil itu berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri. Meskipun pabrikannya mati, mobil itu tetap dapat jalan. Kalau kita beranggapan bahwa hubungan faktor alamiah, seperti air, hujan, energi, panas, bumi, tumbuhan dan manusia dengan Allah seperti itu, seperti terkadang cenderung jadi pandangan kaum Mu'tazilah, maka pandangan seperti itu tentu saja membawa ke kemusyrikan.
Efektivitas segala ciptaan bergantung pada Pencipta mereka, karena asal-usul, eksistensi dan kelangsungan mereka bergantung pada-Nya. Alam semesta adalah ciptaan-Nva dan merupakan rahmat dari-Nya. Alam semesta sepenuhnya bergantung pada-Nya. Karena itu, efektivitas segala ciptaan sesungguhnya merupakan efektivitas Allah, dan kreativitas mereka merupakan kreativitas-Nya dan perpanjangan pekerjaan-Nya. Bahkan dapat dikatakan bahwa memandang musyrik keyakinan akan adanya peran makhluk dalam urusan dunia itu sendiri adalah pikiran musyrik, karena pikiran seperti itu menunjukkan secara tidak sadar mempercayai kemandirian segala yang ada, seperti ditunjukkan oleh anggapan bahwa mempercayai efektivitas segala yang ada berarti sama dengan mempercayai adanya dua pusat. Namun demikian, mempercayai atau mengingkari sebab-akibat segala ciptaan di samping Allah bukanlah garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan.
Apakah mempercayai kekuatan supranatural dari sesuatu yang eksis, apakah itu malaikat atau manusia seperti nabi atau imam, itu musyrik, padahal mempercayai kekuatan dan efektivitas nabi atau imam dan seterusnva dalam batas-batas normal tidak musyrik? Begitu pula, apakah dapat disebut berpikiran musyrik kalau mempercayai kekuatan dan efektivitas seseorang yang sudah mati, mengingat orang yang sudah mati itu nampaknya hanyalah sebuah benda inorganis. Jelaslah, dari sudut pandang hukum alam, benda inorganis tak memiliki kesadaran, tak memiliki daya, tak memiliki kehendak. Karena itu, percaya bahwa orang yang sudah mati bisa melihat, atau menghormati orang yang sudah mati, dan meminta sesuatu dari orang yang sudah mati, semuanya itu merupakan perbuatan musyrik, karena dengan berbuat begitu berarti menganggap bahwa yang punya kekuatan supranatural bukan saja Allah tetapi juga makhluk.
Begitu pula, tentu saja musyrik kalau percaya bahwa tanah di tempat tertentu bisa untuk menyembuhkan penyakit, atau bahwa berdoa di tempat tertentu pasti dikabulkan, karena kepercayaan seperti itu sama saja dengan mempercayai bahwa benda tak ber-nyawa memiliki kekuatan supranatural. Mengingat semua itu alamiah, dapat diidentifikasi, dapat dialami, dan dapat dilihat, maka bukanlah musyrik, seperti anggapan kaum Asya'irah, kalau mempercayai efektivitas hal-hal itu. Namun tentu saja musyrik kalau percaya bahwa makhluk memiliki kekuatan supranatural.
Eksistensi memiliki dua segi: fisis dan metafisis. Segi metafisis merupakan wilayah khusus Allah, sedangkan segi fisis merupakan wilayah khusus makhluk, atau merupakan wilayah bersama antara Allah dan makhluk. Sejumlah fungsi yang memiliki segi metafisis, seperti menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, dan seterusnya, bersama beberapa fungsi normal dan biasa, merupakan wilayah khusus Allah. Sejauh menyangkut Tauhid Teoretis, begitulah posisinya. Adapun Tauhid praktis, maka memberikan perhatian kepada makhluk dengan maksud membina hubungan spiritual dengan makhluk tersebut, agar makhluk tersebut memberikan perhatian kepada kita, atau agar makhluk tersebut memberikan tanggapan kepada kita, maka itu semua merupakan kemusyrikan, dan sama saja dengan menyembah makhluk tersebut. Karena menyembah selain Allah itu tidak dibolehkan oleh akal dan juga oleh syariat Islam, maka orang yang melakukan perbuatan tersebut keluar dari Islam. Kemudian, karakter ritus yang membutuhkan adanya perhatian semacam itu, tak beda dengan karakter ritus yang dilakukan oleh kaum penyembah berhala. Kalau orang melakukan ritus seperti itu, maka artinya dia menganggap sosok yang jadi objek ritus tersebut memiliki kekuatan metafisis (misalnya Imam atau Nabi saw). Itulah pandangan kaum Wahabi dan kaum semi-Wahabi di zaman ini.
Di zaman ini pandangan seperti ini banyak dianut, dan di kalangan-kalangan tertentu malah dianggap sebagai tanda berpikir jemih. Namun dari sudut pandang tauhid, teori kaum Asya'irah itu termasuk musyrik. Sesungguhnya teori tersebut merupakan seburuk-buruk teori, bila dilihat dari sudut pandang tauhid kepenciptaan dan tauhid perbuatan Tuhan.
Dalam kesempatan menunjukkan kekeliruan teori kaum Asya'irah, sudah kami kemukakan sebelumnya bahwa mereka menafikan sistem sebab-akibat, dengan alasan bahwa kalau orang mempercayai efektivitas dan sebab-akibat makhluk berarti dia mempercayai adanya beberapa sumber lain selain Allah. Sudah kami kemukakan bahwa sesuatu dapat menjadi sumber kalau eksistensi sesuatu tersebut terjadi dengan sendirinya, dan sesuatu tersebut tidak bergantung pada Allah. Kaum Asya'irah rupanya secara tidak sadar mempercayai independensi makhluk. Kepercayaan ini jelasjelas musyrik, karena sama saja dengan menyangkal Tauhid Zat Allah. Namun demikian, mereka tidak menyadari konsekuensi teori mereka. Mereka ingin menegaskan tauhid kepenciptaan, namun secara tak sadar justru ujungnya malah mendukung pluralitas Zat Tuhan.
Kritik yang sama juga tertuju kepada kaum semi-Wahabi. Secara tak sadar mereka pun setuju dengan semacam independensi-diri makhluk, karena mereka beranggapan bahwa mempercayai faktor supranatural sama saja dengan mempercayai kekuatan lain selain kekuatan Allah. Mereka ini mengabaikan fakta bahwa kalau satu makhluk dapat melakukan perbuatan supranatural, dan segenap eksistensi makhluk tersebut bergantung pada Allah, dan yang statusnya sendiri tidak mandiri, maka sebenarnya kualitas untuk melakukan perbuatan tersebut berasal dari Allah yang diberikan kepadanya. Makhluk tersebut hanyalah sarana untuk menyampaikan rahmat Allah. Apakah musyrik kalau orang percaya bahwa Malaikat Jibril merupakan perantara yang digunakan untuk menyampaikan wahyu dan ilmu, Malaikat Mikail merupakan perantara untuk memberikan sarana hidup, Malaikat Israfil merupakan perantara untuk Kebangkitan, dan Malaikat Izrail merupakan perantara untuk mencabut nyawa?
Dari sudut pandang tauhid, teori ini berakibat seburuk-buruk kemusyrikan, karena mempercayainya sama saja dengan semacam membagi kerja antara Pencipta (Allah SWT) dan makhluk. Menurut teori ini, perbuatan supranatural merupakan wilayah khusus Allah, sedangkan perbuatan alamiah merupakan wilayah khusus makhluk atau wilayah bersama antara Pencipta dan makhluk. Mempercayai wilayah khusus makhluk, berarti mempercayai pluralitas kerja yang merupakan gagasan musyrik. Begitu pula, mempercayaiwilayah bersama juga merupakan kemusyrikan.
Bertentangan dengan konsepsi tauhid, Wahabisme bukan saja merupakan sebuah doktrin yang bertentangan dengan imamiah, namun juga bertentangan dengan tauhid dan kemanusiaan. Doktrin Wahabi ini anti-tauhid, karena doktrin ini mempercayai adanya pembagian kerja. Seperti sudah dijelaskan di atas, Wahabisme merupakan semacam kemusyrikan terselubung. Juga anti-kemanusiaan, dalam pengertian tidak menghargai bakat dan kemampuan manusia, dua hal yang membuat manusia lebih unggul daripada malaikat sekalipun. Dengan jelas Al-Qur'an menyebutkan bahwa manusia adalah khalifah Allah, dan malaikat diperintahkan untuk sujud di hadapan manusia. Namun Wahabisme masih saja berkeinginan menurunkan maitabat manusia sampai ke tingkat binatang buas.
Lalu, membedakan antara yang hidup dan yang mad, seperti katakanlah bahwa yang mad itu tidak akan hidup lagi meski di akhirat sekalipun, dan bahwa segenap kepribadian manusia itu terletak pada raganya, dan raga ini kemudian berubah menjadi barang inorganis setelah manusia tersebut mati, merupakan gagasan materialistic dan keji. Masalah ini akan kami bahas nand, yaitu ketika membahas Han Kiamat.
Yang juga musyrik adalah, apabila membedakan antara efek sesuatu yang bersifat supranatural dan tak dapat dimengerti (efek pertama) dan yang bersifat dapat dimengerti (efek kedua), dan memandang efek pertama sebagai efek metafisis yang bertentangan dengan efek kedua. Sekarang dapat dimengerti apa maksud Nabi Suci saw ketika bersabda bahwa kemusyrikan begitu diam-diam, dan tak kelihatan ketika menyusup masuk ke dalam iman, bagaikan semut yang berjalan di atas batu pada kegelapan malam.
Faktanya adalah bahwa garis pemisah antara tauhid dan syirik adalah hubungan antara Allah di satu pihak, dan manusia serta alam semesta di pihak lain. Hubungan ini adalah hubungan "dari-Nya" dan "kepada-Nya". Dalam tauhid teoretis, garis pembatas tersebut adalah "dari-Nya". "Kita semua dari Allah". Dari sudut pandang tauhid, sikap kita baru benar kalau kita memandang bahwa hakikat, sifat dan efekdvitas kualitas eksistensi pada sedap kebenaran dan setiap sesuatu yang ada itu dari Allah. Apakah efeknya tunggal, beberapa, atau tak berefek sama sekali, dan apakah punya efek supranatural atau tidak, itu tak penting. Allah bukan Tuhannya dunia metafisis saja. Allah adalah Tuhan alam semesta. Dekatnya Dia dengan dunia fisis, sama dengan dekatnya Dia dengan dunia metafisis. Dia bersama segala sesuatu, dan rezeki untuk segala sesuatu' tersebut adalah dari-Nya. Kalau sesuatu memiliki segi metafisis, itu berarti bahwa sesuatu tersebut memiliki segi ketuhanan. Seperti sudah kami kemukakan sebelumnya, menurut konsepsi Islam, karakter wujud yang dimiliki alam ini adalah "dari-Nya". Dalam banyak ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa para nabi memiliki mukjizat, seperti dapat menghidupkan sesuatu yang sudah mati, dan mengembalikan penglihatan orang yang buta sejak lahir.
Namun demikian, selalu ada tambahannya, yaitu "dengan kehendak-Nya". Frase "dengan kehendak-Nya" ini menunjukkan karakter mukjizat tersebut, dan memperlihatkan bahwa mukjizat ini berasal dari-Nya. Orang tak boleh beranggapan bahwa para nabi itu independen (dalam hal mukjizat—pen.). Yang juga termasuk musyrik adalah kalau mempercayai adanya eksistensi yang bukan "dari Allah". Juga, kalau percaya bahwa efektivitas sesuatu yang ada itu bukan "dari-Nya", maka itu adalah musyrik. Apakah efeknya bersifat supranatural seperti menciptakan bumi dan langit, atau apakah efeknya begitu remeh seperti membalikkan daun, itu tak penting.
Kalau dalam tauhid praktis, maka garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan adalah "kepada-Nya". "Kita semua akan kembali kepada-Nya", seperti dikatakan Al-Qur'an Suci. Kalau kita memberikan perhatian kepada sesuatu yang ada, baik perhatian itu bersifat spiritual atau bukan, dengan maksud untuk sampai kepada Allah, dan bukan sebagai tujuan itu sendiri, maka perbuatan kita ini sama dengan memberikan perhatian kepada Allah. Segala yang ada supaya dipandang hanya sebagai tanda untuk menuju ke Allah. Hanya Allah sajalah tujuannya.
Para nabi dan para imam digambarkan sebagai "rule utama dan jalan lurus, papan penunjuk jalan bagi manusia, mercusuar di darat, pemandu ke jalan Allah, penyampai risalah-Nya dan penyingkap kehendak-Nya." (Ziyârah Jâmi'ah). Karena itu, masalahnya bukanlah kalau ber-wasîlah (menjadikan sebagai perantara) kepada imam, memohon atau berharap agar imam berbuat mukjizat, maka itu musyrik. Bukan ini masalahnya. Sesungguhnya masalahnya adalah sesuatu yang lain.
Pertama, kita harus yakin apakah para nabi dan imam itu memang sedemikian dekat dengan Allah, sehingga mereka dianugerahi kekuatan dan kualitas supranatural. Al-Qur'an Suci menunjukkan bahwa Allah telah menganugerahkan posisi seperti itu kepada sebagian orang.
Kedua, apakah kalau orang ber-wasîlah kepada imam dan wali, ziarah ke makam mereka dan memohon kepada mereka, dari sudut pandang tauhid, memiliki pengertian yang benar mengenai apa yang dilakukannya atau tidak. Apakah dalam benaknya ada "kepada-Nya", ketika mereka ke makam? Ataukah dia lalai akan Dia dan menganggap imam atau wali, yang makam mereka dia ziarahl, sebagai tujuan itu sendiri. Tak syak lagi, sebagian besar orang secara naluriah dalam benak mereka ada Allah. Sebagian orang mungkin benar-benar tak memiliki pandangan tauhid. Mereka harus diingatkan tentang pandangan tauhid ini. Namun demikian, tak ada alasan untuk menyebut musyrik terhadap ziarah ke makam.
Ketiga, bahwa juga musyrik kalau memuliakan dan memuji makhluk sedemikian seakan makhluk tersebut benar-benar sempurna dan eksis sendiri. Hanya Allah sajalah yang benar-benar sempurna. Hanya Dia sajalah yang pantas mendapat segala pujian. Hanya Dia sajalah yang Mahakuasa. Menganggap makhluk memiliki sifat-sifat sempurna seperti itu, baik anggapan tersebut dilakukan dalam bentuk kata maupun perbuatan, maka hal yang demikian itu adalah musyrik. Sudah kami bahas sebelumnya perbuatan-perbuatan yang bisa disebut ibadah dan memuja.
Taat dan Sungguh-sungguh
Tingkat ini disebut tingkat ketaatan dan kesungguhan. Seperti dikemukakan sebelumnya, kalau kita berpaling kepada Allah dan menyembah Allah, berarti kita memperlihatkan bahwa Dia sajalah yang patut ditaati dan kita tunduk patuh mutlak kepada-Nya. Penyembahan seperti ini, dan ungkapan ketundukan total ini tidak boleh dilakukan kepada makhluk, kecuali kepada Allah. Adapun masalah sejauh mana kesungguhan kita dalam ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah dan ketidaktundukan dan ketidak-patuhan kepada makhluk, itu bergantung pada iman kita. Jelas, ketaatan dan kesungguhan kita semua tidaklah sama.
Sebagian orang membuat kemajuan sedemikian rupa, sehingga jiwa dan raga mereka hanya dikendalikan oleh perintah Allah. Hawa nafsu tak dapat mempengaruhi mereka. Siapa pun tak dapat mutlak mengendalikan mereka. Mereka memenuhi tuntutan hawa nafsu kalau tuntutan tersebut diridai Allah. Tampak jelas, mencari keridaan Allah menjadi jalan satu-satunya untuk mencapai kesempurnaan. Orang-orang seperti ini taat kepada kedua orang tua mereka, guru mereka, dan seterusnya hanya karena Allah dan hanya dalam batas-batas yang dibolehkan Allah. Bahkan ada yang lebih dari itu. Mereka hanya mencintai Allah SWT. Kalau mereka mencintai makhluk-Nya, itu karena makhluk merupakan ayat (tanda kekuasaan)-Nya, dan mengingatkan akan-Nya. Meski tidak banyak, ada yang bahkan lebih dari tahap ini. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali Dia, dan memandang segalanya sebagai perwujudan-Nya. Bagi mereka, dalam segala sesuatu ada Dia.
Imam Ali as berkata: "Kalau aku melihat sesuatu, maka sebelum atau bersama sesuatu itu aku melihat Allah." Kalau dalam hidupnya seseorang berupaya memberikan bentuk nyata pada apa yang dikomunikasikannya kepada Allah ketika beribadah, maka orang tersebut mencapai kesempurnaan dan mencapai tahap ketaatan. Bagi orang tersebut, ibadahnya merupakan kontrak nyata, yang pasal-pasal dalam kontrak tersebut harus ditaatinya. Dalam kontrak ini ada dua pasal utama:
- Pertama, tidak menaati siapa pun dan apa pun, termasuk di dalamnya hawa nafsunya.
- Kedua, menerima dan tunduk patuh sepenuhnya kepada perintah Allah.
Dari apa yang telah kami paparkan, jelaslah bahwa Tauhid Islam tak mau adanya alasan lain selain untuk mendapatkan keridaan Allah. Realitas evolusioner manusia dan dunia adalah "menuju kepada-Nya." Apa pun yang orientasinya bukan kepada Allah, maka menyimpang dan bertentangan dengan evolusi alam. Dari sudut pandang Islam, apa pun yang dilakukan manusia, entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, maka haruslah untuk mendapatkan keridaan Allah. Adalah salah kalau mengatakan bahwa "mencari keridaan Allah" identik dengan "untuk kepentingan manusia," dan bahwa berbuat sesuatu untuk mencari keridaan Allah tanpa untuk kepentingan manusia tak lain adalah mistisisme dan pedagogisme.
Dari sudut pandang Islam, jalan satu-satunya adalah jalan Allah, dan tujuan satu-satunya adalah mencari keridaan-Nya. Dan jalan Allah adalah berinteraksi dengan orang lain. Berbuat demi diri sendiri berarti egoisme, berbuat demi manusia berarti menyembah berhala, dan berbuat demi Allah dan manusia berarti kemusyrikan dan dualisme. Tauhid sejati adalah "Berbuat untuk diri sendiri dan untuk orang lain demi Allah." Menurut Islam, jalan tauhid adalah memulai segalanya dengan Nama Allah, bukan atas nama manusia, juga bukan dengan Nama Allah sekaligus atas nama manusia. Dari Surah al-Ikhlâsh dapat ditarik poin yang menarik: mukhlish, yaitu berbuat semata-mata demi Allah, dan mukhlash, yaitu tulus atau suci diri, ada bedanya.
Alam Semesta yang Satu
Bagaimana sebenarnya alam semesta yang satu itu, sudah kami bahas dalam buku kami "Prinsip-prinsip Filsafat". Dalam buku kami yang lain "Keadilan Ilahi", kami kemukakan bahwa alam semesta merupakan sesuatu yang tak dapat dipotong-potong. Kalau satu bagiannya tidak ada, berarti alam semesta itu sendiri tak ada. Dan kalau apa yang disebut keburukan itu sirna, maka sirna pula alam semesta.
Kaum Filosof modern, khususnya Filosof besar Jerman, Hegel. Mendukung pandangan yang mengatakan bahwa hubungan antara alam dan berbagai bagiannya adalah seperti hubungan tubuh dan anggota tubuh. Namun demikian, diterima atau tidak diterimanya argumen-argumen yang dikemukakannya, tergantung pada diterima atau tidak diterimanya segenap prinsip filsafatnya. Para pendukung materialisme dialektis berpandangan seperti ini juga. Mereka mati-matian mempertahankan pandangan ini di bawah prinsip efek timbal balik dan interdependensi hal-hal kontrakdisi, dan mengklaim bahwa di alam semesta hubungan antara satu bagian dan alamnya itu sendiri bersifat organis, namun ketika mereka mengemukakan argumen, maka yang dapat mereka buktikan hanyalah hubungan mekanis. Sesungguhnya, berdasarkan filsafat materialistis, tidaklah mungkin membuktikan bahwa alam sebagai keseluruhan adalah seperti tubuh, dan hubungan bagian-bagiannya dengan alam itu sendiri adalah seperti hubungan anggota badan dan tubuh. Hanya kaum Filosof Ilahiah yang—sejak dahulu berpandangan bahwa alam adalah makrokosmos sedangkan manusia adalah mikrokosmos—telah menggambarkan hubungan ini dengan benar. Dan kalangan Filosof Muslim, Ikhwan ash-Shafa, adalah yang banyak menekankan hal ini. Bahkan lebih dan kaum filosof, kaum sufi memandang alam semesta sebagai satu unit. Menurut mereka, seluruh kosmos merupakan satu perwujudan tunggal Realitas Ilahiah.
Kaum ahli makrifat menyebut alam semesta "tumpahan suci." Mereka mengatakan bahwa alam semesta itu seperti kerucut, puncak kerucut yang ada kontak dengan Allah tak dapat dilihat, dan dasar kerucut sangat luas sekali.
Pada kesempatan ini karni tidak bermaksud membahas pandangan kaum filosof dan pandangan kaum Muslim ahli makrifat itu, dan membahas lagi persoalan yang sudah kami bahas sebelumnya. Seperti sudah kami katakan, realitas alam semesta adalah "dari-Nya" dan "kepada-Nya". Bahwa alam semesta bukanlah semata-mata realitas yang bergerak dan terus berubah, namun alam semesta itu sendiri merupakan perwujudan dari gerakan dan perubahan terus-menerus, merupakan fakta yang tak terbantahkan. Fakta ini sudah dapat dibuktikan oleh filsafat Islam. Ketika mengkaji gerak, juga sudah dijelaskan bahwa satunya permulaannya, satunya akhir (tujuan)-nya dan satunya jalannya membuat gerakan-gerakannya satu. Karena itu, bila melihat fakta bahwa awal (permulaan) alam semesta itu satu, akhir (tujuan)-nya satu, dan jalan evolusionernya juga satu, maka jelaslah bahwa alam semesta itu merupakan semacam satu unit tunggal.
Kasat Mata dan Tak Kasat Mata
- "Mereka yang mempercayai yang gaib." (QS. al-Baqarah: 3)
- "Di sisi-Nya kunci-kunci untuk segala yang gaib. Hanya Dia sajalah yang mengetahuinya. "(QS. al-An'am: 59)
Ada dua macam kegaiban (tak kasat mata): Kegaiban relatif dan kegaiban mutlak. Kegaiban relatif adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap indera seseorang karena sangat jauh letaknya. Misal, bagi seseorang yang ada di Teheran, Teheran kasat mata sedangkan Isfahan tak kasat mata (gaib) . Namun bagi seseorang yang ada di Isfahan, Isfahan kasat mata sedangkan Teheran gaib.
"Peristiwa-peristiwa gaib (yang tak diketahui) ini yang telah Kami wahyukan (singkapkan) kepadamu, tidak pernah kamu mengetahui dan tidak pula kaummu sebelum ini." (QS. Hud: 49)
Jelaslah, kejadian-kejadian kaum di masa lalu adalah "gaib" bagi masyarakat dewasa ini, sekalipun kejadian-kejadian tersebut "terlihat" oleh orang-orang yang menyaksikannya. Di tempat lain, kata "gaib" digunakan Al-Qur'an Suci untuk realitas-realitas yang mutlak gaib. Ada bedanya antara realitas-realitas yang nampak jelas oleh indera namun tak nampak karena letaknya yang sangat jauh, dan realitas-realitas yang tak nampak dan gaib karena realitas-realitas tersebut non-material dan tak terbatas. Ketika Al-Qur'an Suci mengatakan bahwa orang mukmin mempercayai yang gaib, maka yang dimaksud bukanlah kegaiban relatif, karena siapa pun, apakah dia beriman atau kafir, mempercayai kegaiban relatif. Lagi, ketika Al-Qur'an Suci mengatakan bahwa di sisi Allah saja kunci-kunci semua yang gaib, maka maksudnya adalah kegaiban mutlak, karena makna ayat tersebut tidak sesuai dengan kegaiban relatif. Begitu pula dengan ayat-ayat yang menyebutkan hal yang kasat mata dan hal yang gaib. Misal, Al-Qur'an Suci menyebutkan:
"Dan tidak ada sesuatu pun mdamkan pada sisi Kamilah khazanah-nya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." (QS. al- Hijr: 21)
"Barangsiapa kafir kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orangitu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. an-Nisâ': 136)
Dari sudut pandang konsepsi Islam tentang dunia, seperti dunia kasat mata (alam syahadah) dan dunia gaib, dunia fana dan dunia kelak (akhirat) juga memiliki arti yang mutlak, bukan arti yang relatif. Yang relatif adalah perbuatan yang kita lakukan. Jika perbuatan dilakukan untuk memenuhi tuntutan keinginan kita sendiri, maka perbuatan itu merupakan perbuatan duniawi. Dalam banyak kasus, jika perbuatan dilakukan untuk Allah dan untuk mendapatkan keridaan-Nya, maka perbuatan itu merupakan perbuatan akhirat. Kami akan membahas alam semesta dan akhirat secara terperinci nanti dalam Bab "Kehidupan Abadi".
Dari al-shia.org










